by

Ucie Siregar: Pariwisata Lombok Pulih Dalam 1 Minggu, Bagaimana Dengan Rakyat ?

Ucie Siregar, Penulis
Seluruh stakeholders pariwisata akan bergandengan tangan memulihkan pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Lombok Utara. Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) bahkan optimistis kondisi akan normal kembali dalam waktu seminggu.
Ketua ASITA NTB Dewantoro Umbu Joka mengatakan, memang terjadi pembatalan kunjungan dari wisatawan untuk 4-5 hari ke depan, namun setelah itu dia berharap tidak ada lagi pembatalan pemesanan.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya, juga merespons cepat bencana gempa di Lombok dengan mengaktivasi Tim Crisis Center Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Crisis Center ini bertugas memantau Akses, Amenitas dan Atraksi (3A) yang terkait langsung dengan para wisatawan di Lombok dan Bali.
/Mengapa terhadap Pariwisata Dan Wisatawan begitu Istimewa, Sementara Abai Terhadap Rakyat?/
Bagaikan bawang putih dan bawang merah, dimana bawang putih diperlakukan buruk oleh seorang ibu tiri, sementara si bawang merah diperlakukan istimewa. Begitulah kira-kira nasib rakyat Lombok saat ini. Sudahlah tertimpa gempa, korban berjatuhan, tenaga medis  dan makanan yang dibutuhkan untuk korban gempa masih belum cukup untuk dapat memenuhi kesulitan mereka. 
Alih-alih mengobati duka lara rakyat, pemerintah justru lebih peduli pada psikologis wisatawan yang trauma daripada rakyatnya sendiri. Lebih khawatir jika infrastruktur dan bangunan tempat-tempat pariwisata tidak segera diperbaiki, sehingga akan berdampak pada berkurangnya wisatawan yang berkunjung. 
Sikap pemerintah terhadap wisatawan begitu tanggap dan cepat, perhatikan saja bagaimana yang diungkapkan oleh Menpar Arief Yahya, yang pernah dinobatkan sebagai Marketeer of The Years 2013 oleh MarkPlus itu. Dia mengungkapkan “Saat ini angka pasti dampak gempa bagi pariwisata Lombok dan Bali sendiri belum dapat diprediksi, karena masih fokus pada proses pengantaran wisatawan dan memastikan 3A (akses, amenitas, atraksi) beres semua”.
Pemerintah lebih memprioritaskan pemulihan industri pariwisata usai gempa. Dan luar bisanya hanya dalam tempo satu minggu, industri pariwisata ditargetkan beroperasi sebagaimana biasanya agar wisatawan tidak terganggu dan membatalkan kunjungan mereka yang telah direncanakan jauh-jauh hari. 
Sementara rakyat hanya mendapatkan jaminan hidup 10 ribu rupiah perhari, itupun hanya selama tiga bulan saja setelah gempa. Memang ada instruksi dari pemerintah untuk memberikan bantuan kepada setiap keluarga yang menjadi korban sebesar 10-50 juta, namun dengan naiknya harga-harga barang, dan segala bahan baku bangunan lainnya, itu masih jauh dari kata cukup. 
Disamping itu menurut para ahli infrastruktur dan bangunan, daerah Lombok Utara memang daerah yang rawan gempa, ini pernah diutarakan para ahli kepada pemerintah untuk membuat bangunan yang kokoh, tahan gempa sebagai antisipasi berjatuhannya korban. Namun gagasan ini tidak pernah digubris oleh pemerintah, justru pemerintah lebih memilih bagaimana agar infrastruktur segera cepat selesai, agar cepat juga menarik para wisatawan untuk berkunjung. 
Disinilah ruwaibidhahnya rezim, ingin untung sementara aspek-aspek yang lain terutama keselamatan rakyat tidak diperhitungkan. 
Beginilah rezim ruwaibidhah, rezim yang tidak mengerti bagaimana mengurusi kemaslahatan rakyatnya. Rezim yang menganut sistem kapitalisme, yang hanya berorientasi mencari keuntungan. Hanya menguntungkan elit-elitnya. Melayani wisatawan asing (kapitalis) melalui industri pariwisata,  sementara rakyat dijadikan korban kerakusannya. 
Saatnya kembali kepada kepemimpinan Islam, Khilafah. Hanya dengan Khilafah sajalah rakyat diurusi dengan benar. Wallahu A’lam bisshawab.[]

Uci Siregar, Penulis lepas di berbagai media

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − ten =

Rekomendasi Berita