by

Ummu Athifa: Langganan Ditimpa Bencana, Jangan Salahkan Alam

Zulmaidar Sriyeni alias Ummu Athifa, Penulis

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Berita kekeringan Ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia menghiasi beberapa surat kabar Online. Karena memang ada beberapa daerah yang sedang dilanda hari tanpa hujan. Nyaris hampir  2 bulan terakhir sehingga diwaspadai terjadinya kekeringan. 

Di Jawa Timur hampir 422 desa yang mengalami kekeringan, bahkan 199 di antaranya mengalami kekeringan kritis yang berarti tidak ada potensi air di sana. Kabupaten dengan kekeringan kritis terparah yaitu kabupaten Sampang dengan 42 desa. Dan 199 desa itu tersebar di 23 kabupaten di Jatim.
Kemudian di beberapa wilayah Jawa tengah dan Jawa Barat , dan Yogyakarta juga mengalami kekeringan. Ribuan hektare sawah berpotensi gagal panen karena kurangnya pasokan air.
Kekeringan pun melanda sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa, seperti Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Akibat kekeringan, masyarakat sulit memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari karena air di sumur-sumur warga mulai mengering. Dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus dan September 2018.
Hal ini sebenarnya bukanlah pertama kali terjadi di wilayah Indonesia.  Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 606 kejadian bencana kekeringan di Indonesia sepanjang tahun 2010 hingga Juli 2017. (Beritagar, minggu, 12 Agustus 2018).
Seakan menjadi langganan, bencana kekeringan hampir tiap tahun terjadi di  wilayah Indonesia. Padahal air adalah kebutuhan yang sangat vital. Bukan saja manusia dan hewan yang menggunakannya sebagai salah satu kebutuhan yang utama yang mesti ada demi kelanjutan hidup. Namun air juga sumber kehidupan bagi tumbuhan. 
Demikian juga di Indonesia yang tergolong negara agraris/ pertanian yang sangat tergantung adanya hujan. Sehingga curah hujan adalah hal yang sangat di harapkan di negeri ini. Apalagi infrastruktur untuk menunjang pertanian seperti irigasi, waduk dan sebagainya masih minim tersedia.
Dan akibat dari bencana kekeringan ini pun luar biasa bagi kehidupan. Bagi petani kekeringan akan menyebabkan rusaknya struktur tanah dan menyebabkan gagal panen. Otomatis akan membawa kerugian secara materi. Tentu saja akan mempengaruhi kehidupan sosial mereka. Dan bukan tidak mungkin jika terjadi dalam jangka waktu yang panjang akan mengganggu ekosistem  bagi alam sendiri. Bahkan kematian bagi manusia  jika tidak ada solusi dan bantuan segera terhadap wilayah yang terkena dampak bencana langsung.
Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang  menganggap ini  hanya sekedar fenomena alam biasa. Atau paling mereka beranggapan ini adalah cobaan dan  ujian kesabaran dari Allah SWT tanpa pernah mau merenung dan memikirkan  adakah kesalahan diri, masyarakat bahkan negara yang ikut andil menyebabkan bencana ini terjadi yaitu akibat ekses dari pengelolaan Sumber Daya Alam dan paradigma pembangunan yang tak sesuai dengan aturan Islam.
Benar memang apa pun bencana yang di timpakan kepada manusia merupakan suatu cobaan kesabaran dari Allah SWT. Dan Allah maha berkehendak atas itu semua. Tapi kita juga tidak boleh lupa atas peran  manusia yang menjadikan peristiwa itu terjadi.  Allah SWT telah mengingatkan hal tersebut, dalam al quran surat A r-Rum: 41 
Allah SWT berfirman;
                            
(ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ)
Yang artinya : 
“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar.”
Demikian juga dengan makna yang hampir sama Allah SWT berfirman dalam surat Asy-syura: 96 yang artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebahagian besar ( dari kesalahan-kesalahanmu).”
Menurut tafsir, kedua    ayatnya bermakna hampir sama yaitu akibat perbuatan-perbuatan manusialah yang menyebabkan kerusakan-kerusakan baik di lautan maupun di daratan. 
Jadi semakin jelas bahwa ada andil manusia merusak  lingkungan tanpa peduli dengan kelestarian alam. Salah satu penyebab kekeringan, selain  penggunaan air yang berlebih-lebihan oleh individu dan masyarakat, banyak daerah-daerah serapan air seperti hutan-hutan, daerah pertanian, kebun-kebun serta gunung yang ditumbuhi pohon dibabat habis. Yang kemudian  berubah menjadi tempat wisata, perumahan mewah, lapangan golf dan sebagainya demi keuntungan komersial yang terkadang hanya untuk kepentingan segelintir orang atau kelompok.
Semua ini akibat penguasa lalai dalam mengurusi urusan umat. Selain maraknya kemaksiatan dan berbagai pelanggaran hukum Allah lainnya, inilah pelanggaran hukum Allah yang terbesar yaitu abainya pemerintah menjalankan aturan Allah sesuai yang telah Allah atur dalam Islam. 
Dimana kepemilikan umum yaitu air, padang rumput (hutan) dan api (barang tambang)  yang memiliki aset yang besar maka tidak boleh dimiliki oleh individu atau segelintir orang. Tapi dikelola oleh pemerintah untuk hasilnya untuk seluruh rakyat. 
Bukan seperti saat ini banyak sumber daya alam negeri kita yang diserahkan kelolanya kepada badan usaha  bangsa Asing, hasilnya tentu saja diangkut ke negara mereka. Sementara rakyat bangsa sendiri hanya gigit jari.
Wajarlah jika mendapat berbagai macam bala termasuk kekeringan. Karena Allah SWT telah berfirman dalam surat al a’raf ayat 96 yaitu:

(وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya:
“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka akan kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Belum Cukupkah bagi kita, begitu banyak bencana alam yang telah menimpa negeri ini semacam gempa di Lombok atau kekeringan akhir-akhir ini menjadi pelajaran untuk segera mencampakkan sistem Kapitalis yang hanya memberi kehidupan yang rusak ini. Yang menghancurkan tatanan hidup masyarakat menjadi materialis, hedonis serta individualis. 
Mari kita kembali kepada aturan Allah SWT yang sempurna ini secara menyeluruh, untuk melahirkan kehidupan yang Rahmatal lil alamin. Allahu A’lam bi shawwab.[]


Penulis adalah pemerhati masalah sosial umat dan anggota komunitas menulis Revowriter

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + 4 =

Rekomendasi Berita