by

Utina Mimi: Kelayakan Pangan Hanya untuk Juragan Kapitalis

Utina Mimi, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa pekan terakhir masyarakat masih diributkan oleh mahalnya harga telur, sehingga banyak masyarakat di beberapa daerah melirik untuk membeli telur pecah. Bahkan pada hari Minggu lalu (29/7/18), warga di Desa Haruman, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut memunguti telur pecah yang tumpah dari bak truk terguling saat melintasi Jalan Raya Leles. ( jakarta.tribunnews.com)
Terkait dengan mengonsumsi telur pecah itu sendiri, Dinas Kesehatan Tangerang Selatan menanggapi fenomena ini. Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dr.Tulus Muladiyono didampingi Kepala Dinas Tangsel, Deden Deni menjelaskan bahaya dari telur pecah tersebut. Setidaknya ada 2 bahaya dari telur pecah, yaitu berpotensi besar masuknya bakteri Salmonela penyebab penyakit Tifus dan hilangnya nutrisi telur ( http://TribunJakarta.com ). 
Kasus kenaikan harga pangan, bukan hanya terjadi pada jenis telur saja serta bukan kali pertama terjadi di negeri ini. Melonjaknya harga pangan membuat daya beli masyarakat menurun, hingga akhirnya masyarakat terpaksa mencari alternatif lainnya demi memenuhi kebutuhan hidup. 
Kondisi yang kian terjepit mengantar masyarakat pada sikap kurang peduli terhadap aspek kesehatan dan kandungan gizi makanan yang dikonsumsi. “Yang penting kenyang”, mungkin hanya kalimat tersebut yang terlintas di benak masyarakat kecil.
Mirisnya, pihak yang seharusnya bertanggungjawab atas terpenuhinya pangan yang layak bagi masyarakat justru acuh tak acuh, saling lempar tanggungjawab, serta menanggapi hal tersebut bukan dengan solusi tuntas.
Hal itu tidak menjadi suatu hal yang mengherankan di negeri yang mengambil kapitalisme sebagai aturan kehidupan. Sistem yang memokuskan kekayaan hanya pada segelintir orang saja, sistem yang memandang masalah pendapatan nasional sebagai asas perekonomian. Menurut sistem ini pertumbuhan ekonomi cukup dinilai melalui angka-angka rata-rata saja tanpa melihat kondisi ril di tengah-tengah masyarakat. Seperti dilansir oleh jakarta.tribunnews.com, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan bahwa angka kemiskinan pada Maret 2018 turun di bawah 10% atau dengan kata lain persentase kemiskinan memasuki 1 digit, 9,82%. Dengan catatan jumlah penduduk miskinnya sebenarnya masih 25.095 juta jiwa. Angka yang fantastis, mengingat negeri kita memiliki berbagai jenis sumber daya alam yang luar biasa mewahnya.
Pemikiran tentang peningkatan  pendapatan nasional dan upaya-upaya untuk menjadikannya asas sistem ekonomi adalah keliru. Selain berbahaya, pemikiran tersebut merupakan rencana negara barat untuk memperpanjang dan memperkokoh hegemoni sistem Kapitalisme di negeri-negeri muslim. 
Seharusnya, negara menjamin pemenuhan semua kebutuhan primer (pangan, papan, sandang) setiap individu maupun kebutuhan sekunder sesuai kemampuan individu. Islam memandang setiap orang secara individual, bukan secara kolektif sebagai komunitas yang hidup dalam sebuah negara. Pandangan seperti ini hanya akan dijumpai di dalam negara yang menerapkan Islam secara kaffah, yaitu Khilafah.
Khilafah memiliki langkah-langkah untuk menjamin pangan, pertama, meningkatkan produksi bahan makanan, termasuk telur. Bahan makanan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus meningkat, menjauhkan dari kelaparan ketika paceklik, serta antisipasi ketika negara Islam menghadapi embargo ekonomi akibat peperangan atau jihad. Kedua, meningkatkan produksi bahan  seperti wol, kapas, sutra dsb. agar tidak perlu ada impor dari luar negeri. Ketiga, meningkatkan bahan-bahan yang dimiliki di pasar luar negeri, baik bahan makanan, pakaian, dll. Agar kita tidak harus menjual mata uang kita di pasar internasional untuk mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan.
Ketika semua kebutuhan tersedia dan terpenuhi maka kondisi miris seperti saat ini tidak akan kita jumpai, dan hal tersebut hanya akan terwujud dalam Khilafah. Insya Allah [].

Penulis adalah anggota Komunitas Intelektual Muslimah Aceh

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + 17 =

Rekomendasi Berita