by

Utina Mimi, Komunitas Intelektual Muslimah Aceh: Jangan Sekadar Ganti Pemain

Mirna (Utina Mimi), Penulis
RADARIDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setelah membuat banyak orang menanti-nanti, akhirnya diumumkan nama-nama capres dan cawapres yang akan bertarung pada pilpres 2019 mendatang. Meski bursa cawapres sempat alot, akhirnya terpilih dua nama yang salah satunya mengarah pada sosok agamis.
Reza Priyambada mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk meredam isu politisasi agama dalam pilpres mendatang, seperti isu sara yang terjadi pada pemilu Jakarta yang lalu.
Tentu kita belum lupa bagaimana tindakan penguasa terhadap Islam  yang dihasilkan oleh rezim represif dan sistem anti Islam yaitu, kapitalisme. Sebelumnya, para penguasa begitu massif melontarkan tuduhan-tuduhan keji terhadap Islam bahkan menyebut Islam sebagai ajaran yang berbahaya. Orang-orang yang memperjuangkan penerapan syariat Islam tak luput dari tuduhan radikal dan mengancam persatuan dan kesatuan negara. Tindakan persekusi dan diskriminasi terhadap pihak-pihak yang mendakwahkan Islam juga kerap terjadi. Begitu pula kita bisa menyaksikan tindakan represif saat melakukan pembubaran pengajian Islam tanpa alasan yang jelas.
Apakah kini bayangan tersebut ingin dihapuskan serta merta melalui penetapan pasangan yang dibesar-besar akan berpihak kepada kaum Muslim. Justru hal tersebut mengeluarkan bau kecohan saja, agar umat merasa rezim telah berpihak pada Islam. Pada kenyataannya keterpihakan itu tidak ada dalam sistem anti Islam.
Sepatutnya kita tidak akan begitu terkejut dengan situasi politik yang sedang terjadi saat ini, karena demikianlah demokrasi sekuler. Keterpihakan dipandang hanya dari segi keuntungan. Hari ini lawan, bisa jadi esok hari menjadi kawan. Bahkan seorang ekonom, Josua Pardede menuturkan kestabilan situasi pemilu akan mendukung baiknya investasi, ( Liputan6.com ). Maknanya, siapa saja pasangan terpilih yang penting investasi asing harus tetap lancar. Terkait perkara kesejahteraan masyarakat, bukan menjadi pembahasan utama.
Menampilkan tampilan baru tapi sistem yang diterapkan masih sistem yang fasad bin zalim, hal tersebut tidak akan mampu memperbaiki kondisi yang memang dirusak oleh sistem tersebut. Negeri ini sudah mencobanya berkali-kali, namun hasilnya tetap sama.
Lihat saja dari deretan pesta demokrasi yang telah dilakukan di negeri ini, tidak mampu mengubah kondisi menjadi lebih baik. Kasus kemiskinan misalnya, yang terjadi bukanlah mengurangi angka kemiskinan melainkan menurunkan standar kemiskinan. Kita tahu bahwa standar kemiskinan di negeri kita adalah Rp 401 ribu per bulan atau Rp 13 ribu perhari. Menurut Kepala Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, standar pada Maret 2018 tersebut sudah naik dibandingkan tahun sebelumnya, ( Liputan6.com ) . Artinya, kemiskinan pernah berada di angka yang lebih kecil. Sementara untuk memenuhi kebutuhan hidup, rakyat harus menjangkau harga-harga yang melambung tinggi dibandingkan pendapatannya.
Dari sisi yang lain, seperti pergaulan, pendidikan, kesehatan, keamanan, moral, dll. negeri ini juga belum mampu merangkak lebih tinggi, justru kian bobrok dan terpuruk. Lalu, perbaikan seperti apa yang dihasilkan dari setiap pergantian rezim dalam sistem yang sama, selain hanya iming-iming belaka?
Jika ingin mengubah kondisi negeri yang kian carut marut ini, harusnya kita bukan sekadar ganti baju melainkan mengganti segala hal yang berasal tidak dari Islam, serta menjadikan Islam sebagai satu-satunya harapan terbaik untuk memperbaiki segala kerusakan. 
Islam telah menetapkan tugas seorang pemimpin atau penguasa adalah untuk melakukan pengaturan urusan dunia (siyasah ad-dunya). Siyasah itu sendiri adalah mengatur sesuatu dengan apa yang membuat sesuatu itu baik, sementara kebaikan itu hanya akan diperoleh jika sejalan dengan perintah Allah. Hal itu hanya akan dijumpai di dalam sistem kepemimpinan Islam, bukan Kapitalisme. 
Sistem kepemimpinan Islam inilah yang benar-benar mampu mewujudkan solusi bagi berbagai permasalahan negeri bahkan dunia. Sekali lagi sistem kepemimpinan Islam. Jadi, jangan sekadar ganti pemain. Ganti sekaligus dengan aturan mainnya. Karena ganti pemain hanya mengulang kegagalan dan menambah parah kehancuran.[]


Penulis adalah anggota Komunitas Intelektual Muslimah Aceh

Comment

Rekomendasi Berita