Verawati, S.Pd: Guruku Sayang Guruku Malang, Islam Memberi Solusi

Berita1510 Views
Verawati, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Guruku tersayang, Guru tercinta, Tanpamu apa jadinya aku, Tak bisa baca tulis, Mengerti banyak hal, Guruku terimakasihku.
Potongan lirik lagu di atas begitu begitu popular di telinga anak-anak sekolah. Lirik yang menggambarkan betapa dekatnya hubungan antara guru dan murid. Pastinya sosok guru di hadapan muridnya adalah orang yang sangat berjasa. Tanpa jasa mereka dalam suatu bangsa bahkan dunia, tentu  akan terasa sempit dan gelap karena diselimuti kebodohan. 
Namun fakta saat ini khususnya di Indonesia,  jasa-jasa mereka yang begitu besar tak mendapatkan imbalan yang setimpal dari pemerintah. Bahkan kondisinya sangat memprihatinkan dan sangat jauh dari kesejahteraan. Terutama yang dialami oleh para guru berstatus honorer atau guru yang bekerja di sekolah swasta. Jumlah mereka begitu banyak, karena keberadaan guru PNS jauh dari cukup. Dan jumlah sekolah swastapun jauh lebih banyak daripada sekolah negeri.
Hal tersebut terbukti saat ribuan guru honorer melakukan unjuk rasa di depan Istana Presiden akhir Oktober 2018 kemarin. Mereka datang dari berbagai wilayah dengan maskud mengadukan nasibnya pada pemerintah. Menagih janji presiden yang akan mengangkat mereka  menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun sungguh malang nasib guru, Presiden dan jajaran pemerintah lainnya tak menemui mereka. Presiden lebih memilih menghadiri Sains Expo di ICE, BSD, Tangerang Selatan. Hingga mereka bermalam di depan Istana dengan menunggu  jawaban yang tak pasti dari pemerintah. Merekapun akhirnya pulang dengan rasa kecewa.
Sungguh ironi nasib guru honorer di negeri ini. Mereka selama ini di gaji dengan nominal yang jauh dari kata layak, yakni 400-500 ribu/bulan. Bahkan di beberapa daerah lainnya ada yang lebih kecil lagi.  Padahal biaya hidup hari ini kian tak terjangkau. Inilah bentuk abainya pemerintah terkait upah guru honorer. Disparitas gaji guru tak kunjung jadi sorotan. Padahal tak sedikit sekolah yang berbasis kalkulasi bisnis.
Apa imbasnya? Gaji yang tak layak akan mempengaruhi kinerja para guru. Sehingga tak sedikit yang mencari proyek sampingan. Bahkan ada seorang guru yang menjadi pemulung sampah. Mursidi namanya, seorang guru honorer  di SMPN1 Montong Gading Lombok Timur ini harus rela menyambi jadi pemulung sampah demi menambah penghasilan hidup.  Bisa dibayangkan bila para guru hari-harinya selalu galau tentang keuangan. Tentu saat mengajar tak ada lagi ketenangan dan kesungguhan . Kalau sudah sibuk cari tambahan, tentu lupa akan memperbaiki kualitas diri. Akhirnya inipun akan berimbas pada kualitas pelayanan pendidikan. Bisa jadi outputnya akan lemah.
Output pendidikan ini padahal akan menjadi tonggak peradaban. Jika sedari dini, generasinya tak berkualitas. Maka, sulit untuk membangun sebuah negeri. Inilah peran strateginya seorang guru. Sehingga seharusnya guru mendapatkan penghidupan yang layak sebagai wujud membalas jasa-jasanya yang luar biasa hebatnya.
Dalam Islam kesejahteraan guru bukan ilusi
Dalam Islam, perhatian negara terhadap pendidikan demikian besar. Demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya. Perhatian negara Islam terhadap nasib para pendidik tertoreh dalam sejarah kekhilafahan. Sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab menggaji para guru, masing-masing 15 dinar. Adapun 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas. Maka berarti  1 dinar setara dengan Rp 2.258.000,-. Artinya, pada masa khalifah Umar, gaji guru mencapai Rp 33.870.000,-. 
Contoh lain yang tak kalah menarik, terjadi pada masa Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi Rahimahullah, guru begitu dihormati dan dimuliakan. Syekh Najmuddin Al-Khabusyani Rahimahullah misalnya, yang menjadi guru di Madrasah al-Shalāhiyyah setiap bulannya digaji 40 dinar dan 10 dinar (  setara Rp 112,900,000) untuk mengawasi waqaf madrasah. Di samping itu juga 60 liter roti tiap harinya dan air minum segar dari Sungai Nil.
Sungguh beda jauh dengan potret guru hari ini. Guru pada masa kepemimpinan Islam begitu disejahterakan oleh negara. Mengapa? Sebab disadari betul bahwa  guru merupakan pilar penting dalam mewujudkan wajah peradaban di masa mendatang. Jika gurunya tak sejahtera, bagaimana mungkin mereka dapat fokus mendedikasikan dirinya di sekolah. Sementara duka terus menggelayuti benak mereka. 
Berbeda halnya yang terpotret manakala Islam diterapkan dalam institusi pemerintahan. Guru sejahtera, generasi berkualitas. Begitulah adanya. Sejarah peradaban Islam mencatat banyaknya para cendekiawan dan intelektual yang lahir di masa kejayaan Islam. Contohnya Ibnu Rusydi, beliau menguasai ilmu fikih, ilmu kalam, sastra Arab, matematika, fisika, astronomi, kedokteran, dan filsafat.
Hal yang terpenting lainnya adalah pandangan Islam yang begitu dasar. Bukan semata soal kesejahteraan, melainkan juga sebagai kewajiban kepada Allah Swt. Bahwa dalam pandangan Islam menununtut ilmu dan mengajarkannya adalah hal yang diperintahkan.  orang yang berilmu akan dinaikan derajatnya dan juga dianggap sebaik-baiknya manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dan Hadits Nabi Muhammad SAW.
“…Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (TQS. Al-mujadallah, 11 ). Begitupula hadist nabi yang mendorong orang-orang berilmu intuk mengamalkan ilmunya (Al-Quran) . “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori ).
Begitu sempurnanya Islam mengatur masalah pendidikan. Semuanya saling berhubungan dan berkesinambungan. Antara murid, guru ,orang tua begitupun Negara. Semuanya saling mendukung untuk mewujudkan generasi yang baik, generasi pembawa perubahan dan pemimpin dunia. Dengan demikian dalam kesejahteraan para guru itu bukan hal yang musykil dapat terwujud kembali. Ketika perhatian negara terhadap pendidikan amat besar.  
Sudah selayaknya para guru berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan pendidikan dengan bersama-sama mewujudkan tegaknya syariah secara kaffah dalam bingkai Negara Khilafah.  Wallahu a’lam bishowab.[]

Comment