Yuni Masruroh: Radikalisme Dan Persatuan Umat

Berita2339 Views
Yuni Masruroh, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jelang aksi 212 isu radikalisme semakin gencar disuarakan. Ceramah
dan khutbah masjid pun ikut menjadi incaran. Dengan dalih penjagaan dari paham
yang mereka anggap radikal. Sebagaimana yang dikutip dari Republika.co.id, Perhimpunan
Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) melakukan survei terhadap 100
masjid pemerintahan di Jakarta. Survei terhadap 100 masjid tersebut terdiri
dari 35 masjid di Kementerian, 28 masjid di Lembaga Negara dan 37 masjid di
Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan
Masyarakat (P3M) Agus Muhammad mengatakan, survei itu dilakukan setiap shalat
Jumat dari 29 September hingga 21 Oktober 2017. Kemudian, tim survei
menganalisis materi khutbah Jumat yang disampaikan, dan hasilnya ada 41 masjid
yang terindikasi radikal. “Dari 100 masjid itu 41 kategorinya radikal.
Radikal rendah itu tujuh masjid, radikal sedang 17 masjid, dan radikal tinggi
itu 17 masjid,” ujar Agus saat dihubungi Republika.co.id, Senin (9/7).
  
Isu radikalisme sepertinya masih dianggap ampuh untuk
menakut-nakuti umat Islam akan agamanya. Islam yang sejatinya adalah agama yang
sempurna dan paripurna berusaha untuk dibatasi aturannya. Aturan Islam yang
mencakup seluruh aspek kehidupan sebisa mungkin dikerdilkan perannya. Dan
dibatasi dalam hal apa saja Islam boleh mengatur kehidupan kita. Sekulerisme telah
menjauhkan umat Islam dari Syariat Islam yang sempurna. Dengan dalih
radikalisme, ajaran-ajaran Islam yang dianggap mengancam kepentingan penguasa
boneka asing akan terus dihalang-halangi. 
Propaganda radikalisme yang ditudingkan kepada kelompok Islam
yang terus dipropagandakan oleh penjajah
kafir barat dan para anteknya bertujuan antara lain:
Pertama,
menjauhkan umat Islam dari keterikatan dengan agamanya yang paripurna. Kedua, melemahkan ghirah umat Islam
untuk memperjuangkan agamanya, terutama dalam konteks penerapan syariah secara kâffah
dalam institusi Khilafah. Ketiga,
mengadu domba antarumat Islam; radikal vs moderat. Keempat, mencegah kebangkitan umat Islam yang dikhawatirkan
dapat mengancam segala kepentingan negara-negara penjajah kafir barat. Penjajah
kafir barat tentu amat khawatir jika dominasi dan hegemoninya atas negeri-negeri
Islam berakhir akibat bangkitnya kaum Muslim.
Jadi, siapa yang diuntungkan dengan propaganda radikalisme ini?
Jelas, penjajah kafir barat dan para anteknya. Lalu siapa yang dirugikan? Tentu
kaum Muslim secara keseluruhan, bukan hanya kelompok-kelompok Islam yang aktif memperjuangkan
syariah Islam saja.
Karena itu, tentu umat harus selalu waspada atas berbagai propaganda
busuk yang bertujuan untuk memecah belah kesatuan umat Islam. Sebab, jika umat termakan
propaganda mereka, maka umat Islam akan terus berada dalam dominasi dan hegemoni
Barat kafir penjajah.
Karena isu-isu tentang radikalisme akan terus didengungkan
hingga mereka para pembenci Islam menemukan cara baru yang akan mereka gunakan.
Jika saat ini isu radikal masih menjadi alat menyerang umat Islam, lambat laun
isu-isu tersebut akan hilang dengan sendirinya. Ibarat dagangan tak laku, saat
apa yang mereka bawa sudah tak menarik lagi untuk ditawarkan, maka akan mereka
ganti dengan isu-isu lain yang sekiranya bisa tetap mengokohkan penjajahan
mereka atas negeri-negeri muslim. 
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 120;
“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan pernah ridha
kepadamu(Muhammad), hingga kamu mengikuti millah mereka”.
Saatnya umat menyatukan langkah untuk kemenangan Islam,
menghilangkan batas-batas perbedaan untuk mengembalikan kehidupan Islam demi meraih
ridha Allah SWT. Wa ma taufiqi illa billah.[]
Penulis adalah anggota komunitas penulis online, Jember

Comment