Pagi itu ia datang dengan wajah yang berbeda.
Ada semburat malu di wajahnya. Senyumnya mengembang, seolah sedang menyimpan sebuah kabar yang sudah tak sabar ingin disampaikan.
“Aku mau cerita sesuatu,” katanya.
Aku menatapnya penasaran.
Ia tersipu malu, lalu berkata,
“Ada seorang laki-laki yang telah ta’aruf dan mengkhitbah kakak.”
Mataku langsung berbinar.
“Masya Allah… serius, Kak?”
Ia mengangguk.
Kemudian ia bertanya,
“Kamu mau tahu siapa yang nanti akan menikahiku?”
“Wah, mau dong, Kak. Siapa laki-laki itu?”
Jawabku semangat.
Ia tersenyum.
“Ini baru kamu saja yang Kakak beritahu. Teman-teman yang lain belum Kakak beritahu.”
“Siap!”
Aku pun tak sabar ingin mengetahui siapa ikhwan yang akan menjadi pendamping hidupnya.
“Barakallahufik ya, Kak. Semoga proses menuju pernikahan dan walimatul ‘ursy-nya lancar.”
Hari itu terasa begitu berbeda.
Aku yang sibuk seharian kuliah dan ia yang sibuk mengajar membuat kami jarang pergi bersama. Namun pagi itu ia memintaku menemaninya melihat dekorasi pernikahan sekaligus mencari tempat penyewaan gaun pengantin.
Qadarullah, guru ngajiku memiliki jasa penyewaan gaun pengantin. Aku pun mengajaknya ke sana.
Ia melihat satu per satu gaun yang tersedia.
Aku membantunya memilih, mengarahkan, dan memberikan beberapa saran.
“Kalau yang ini bagaimana, Kak?”
Ia tersenyum.
“Kalau menurutmu bagus, kakak ikut saja.”
Akhirnya kami memilih sebuah gaun pengantin syar’i yang anggun.
Fitting pun dilakukan.
Aku membantunya mengenakan gaun itu dan memperhatikan bagian-bagian yang perlu dirapikan.
Ia mengikuti saran yang kuberikan.
Saat berdiri di depan cermin, wajahnya tampak begitu bahagia.
Seolah sedang melihat dirinya sendiri dalam kehidupan baru yang sebentar lagi akan dimasukinya.
Sepulang dari fitting, ia mentraktirku makan mie ayam.
Sambil menikmati makanan, pembicaraan tentang masa depannya kembali berlanjut.
Ia bercerita tentang rumah tangga yang ingin dibangunnya, tentang anak-anak yang kelak ingin dipeluknya, dan tentang kehidupan bersama lelaki yang akan menjadi imamnya.
Aku yang usianya jauh di bawahnya hanya bisa senyam-senyum mendengarkan.
Kebahagiaan begitu jelas terpancar dari wajah dan tutur katanya.
Aku ikut bahagia melihatnya.
Saat itu aku hanya melihat seorang perempuan yang sedang menyambut masa depan dengan penuh harapan.
Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti, semua percakapan itu akan menjadi kenangan yang begitu mahal.[]











Comment