Aku Menjadi Saksi Atas Hari Bahagia dan Hari Kepulangannya

Cerpen34 Views

Penulis: Hawilawati, S.Pd | Diangkat dari Kisah Nyata

Pagi itu ia datang dengan wajah yang berbeda.

Ada semburat malu di wajahnya. Senyumnya mengembang, seolah sedang menyimpan sebuah kabar yang sudah tak sabar ingin disampaikan.

“Aku mau cerita sesuatu,” katanya.

Aku menatapnya penasaran.

Ia tersipu malu, lalu berkata,

“Ada seorang laki-laki yang telah ta’aruf dan mengkhitbah kakak.”

Mataku langsung berbinar.

“Masya Allah… serius, Kak?”

Ia mengangguk.

Kemudian ia bertanya,
“Kamu mau tahu siapa yang nanti akan menikahiku?”

“Wah, mau dong, Kak. Siapa laki-laki itu?”
Jawabku semangat.

Ia tersenyum.
“Ini baru kamu saja yang Kakak beritahu. Teman-teman yang lain belum Kakak beritahu.”

“Siap!”

Aku pun tak sabar ingin mengetahui siapa ikhwan yang akan menjadi pendamping hidupnya.

“Barakallahufik ya, Kak. Semoga proses menuju pernikahan dan walimatul ‘ursy-nya lancar.”

Hari itu terasa begitu berbeda.

Aku yang sibuk seharian kuliah dan ia yang sibuk mengajar membuat kami jarang pergi bersama. Namun pagi itu ia memintaku menemaninya melihat dekorasi pernikahan sekaligus mencari tempat penyewaan gaun pengantin.

Qadarullah, guru ngajiku memiliki jasa penyewaan gaun pengantin. Aku pun mengajaknya ke sana.
Ia melihat satu per satu gaun yang tersedia.

Aku membantunya memilih, mengarahkan, dan memberikan beberapa saran.

“Kalau yang ini bagaimana, Kak?”

Ia tersenyum.
“Kalau menurutmu bagus, kakak ikut saja.”

Akhirnya kami memilih sebuah gaun pengantin syar’i yang anggun.

Fitting pun dilakukan.

Aku membantunya mengenakan gaun itu dan memperhatikan bagian-bagian yang perlu dirapikan.

Ia mengikuti saran yang kuberikan.

Saat berdiri di depan cermin, wajahnya tampak begitu bahagia.

Seolah sedang melihat dirinya sendiri dalam kehidupan baru yang sebentar lagi akan dimasukinya.

Sepulang dari fitting, ia mentraktirku makan mie ayam.

Sambil menikmati makanan, pembicaraan tentang masa depannya kembali berlanjut.

Ia bercerita tentang rumah tangga yang ingin dibangunnya, tentang anak-anak yang kelak ingin dipeluknya, dan tentang kehidupan bersama lelaki yang akan menjadi imamnya.

Aku yang usianya jauh di bawahnya hanya bisa senyam-senyum mendengarkan.

Kebahagiaan begitu jelas terpancar dari wajah dan tutur katanya.

Aku ikut bahagia melihatnya.

Saat itu aku hanya melihat seorang perempuan yang sedang menyambut masa depan dengan penuh harapan.

Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti, semua percakapan itu akan menjadi kenangan yang begitu mahal.

Hari pernikahan akhirnya tiba.

Rumahnya dipenuhi keluarga dan para tamu.

Sang perias pengantin telah datang dengan segala perlengkapannya.

Namun ia justru menolak untuk dirias.

Tak seorang pun berhasil membujuknya.

Hingga akhirnya aku masuk ke kamarnya.
Wajahnya tampak gugup.

“Aku hanya mau dirias kamu…”

Aku tersenyum.
“Lho, aku bukan MUA, Kak.”

Ia tetap bersikeras.

“Tetap saja. Aku maunya kamu.”

Aku duduk di sampingnya dan berusaha menenangkannya.

Dengan kemampuan seadanya, aku mulai merias wajahnya.

Aku membantu mengenakan gaun yang dulu kami pilih bersama, lalu merapikan kerudungnya.

Ketika ia berdiri di depan cermin, aku melihat seorang perempuan yang begitu bahagia.

Hari itu ia tampak cantik.

Bukan hanya karena riasan dan gaun yang dikenakannya, tetapi karena kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.

Namun sejak pagi ia tidak mau makan karena terlalu gugup.

Wajahnya mulai pucat.

Keluarganya kembali memintaku membujuknya.

“Tolong bujuk kakak makan. Nanti dia bisa pingsan.”

Aku menawarkan berbagai makanan.

Ia hanya menggeleng.
Sampai akhirnya ia berkata,

“Aku cuma mau susu hangat buatanmu.”

Aku tertawa kecil.
Di tengah banyaknya makanan yang tersedia, ia justru hanya menginginkan susu hangat buatanku.

Aku pun membuatkannya segelas susu.

Ia meminumnya sampai habis.

Saat itu aku sama sekali tidak menyangka bahwa segelas susu sederhana tersebut kelak menjadi salah satu kenangan yang begitu melekat di ingatanku.

Waktu berjalan.

Setahun setelah pernikahannya, Allah memberinya ujian berupa sakit yang berat.

Di saat yang sama, ia sedang mengandung.

Tubuhnya semakin lemah, tetapi ia terus bertahan demi bayi yang tumbuh di dalam rahimnya.

Akhirnya ia berhasil melahirkan normal dalam keadaan di opname

Bayinya lahir prematur dan harus dirawat di dalam inkubator.

Meski tubuhnya menanggung sakit yang luar biasa, ia tetap bersyukur.

Kami semua berharap setelah melahirkan kondisinya akan berangsur membaik.

Namun ternyata Allah memiliki ketetapan lain.

Keesokan harinya ia dinyatakan pulang sebab sudah hampir 2 pekan di rawat di RS tersebut, sebelumnya sebab sakit di opname dan lanjut melahirkan.

Ia pulang tanpa membawa bayi mungilnya yang masih di rawag di rumah sakit, sebab kondisinya yang masih sangat rentan.

Subhanallah, setelah sampai dirumah,
Kondisinya justru menurun dengan sangat cepat.

Ketika aku tiba di rumahnya, napasnya sudah mulai berat.
Aku berada tepat di sebelah kanannya.

Tanganku menggenggam tangannya.

Aku membacakan Al-Qur’an dan men-talqin di telinganya.

Di sela napas yang mulai berat, ia membuka mata perlahan.

Lalu berkata dengan suara lirih,
“Adem… kalau dibacakan Al-Qur’an…”

Kalimat itu membuat hatiku bergetar.

Di tengah rasa sakit yang sedang ia rasakan, ternyata lantunan ayat Allah menjadi sesuatu yang menenangkan dirinya.

Keluarganya kemudian berkata kepadaku,
“Jangan berhenti. Tetap di sampingnya. Teruskan talqinnya.”

Aku pun terus membacakan Al-Qur’an dan membimbingnya mengingat Allah.

Satu demi satu rasa sakit mulai ia rasakan.
Dari tenggorokan, ia berkata,

“Aku haus… aku ingin minum.”

Kami memberinya minum sesendok demi sesendok.

Setelah itu ia berkata,
“Perutku mulas… aku ingin pup.”

Orang-orang di sekelilingnya segera membantu.

“Pup saja, Kak. Tidak apa-apa. Ayo, kami bantu. Pakai tisu.”

Akhirnya keluar kotoran yang sangat sedikit, sebesar biji kurma dan berwarna hitam.

Kami semua terdiam. Dalam hati masing-masing muncul sebuah firasat yang sama.

Ya Allah… inikah kotoran terakhirnya? Tak lama kemudian rasa sakit menjalar hingga ke betis.

“Kenapa betisku kaku?” Jari-jari kakinya pun mulai ikut kaku. Tubuhnya semakin lemah. Matanya berputar, melihat orang-orang yang berada di sekelilingnya. Aku tetap berada di sisi kanannya.

Surat Yasin terus kulantunkan. Talqin terus kubisikkan di telinganya. Kemudian pandangannya berhenti kepadaku.

Dengan suara yang sangat lirih ia berkata,

“Awil… maafkan kakak…”

Aku mengangguk sambil menahan air mata. Setelah itu ia memanggil suaminya.

“Abi… maafkan aku… jaga anak kita…”

Kemudian ia memanggil satu per satu orang yang berada di ruangan itu. Ia meminta maaf kepada semuanya.

Momen itu membuat seluruh orang yang berada di dalam ruangan tak mampu menahan air mata. Tangis pecah di mana-mana.

Terlebih suara tangis histeris suaminya yang tak lagi mampu dibendung. Aku sendiri tetap berusaha menahan air mata.

Aku terus membacakan Surat Yasin dan men-talqin di telinganya. Tiada henti.

Di tengah keadaan itu, ia masih berusaha mengikuti bacaanku. Bibirnya bergerak perlahan.

Surat Yasin pun ia ikuti hingga dua kali. Lalu ia berkata, “Titip anakku…”

Kalimat itu begitu dalam..

Seorang ibu yang sedang berada di ambang kematian masih memikirkan anak yang baru saja diperjuangkannya untuk lahir ke dunia.

Beberapa saat kemudian napasnya berubah.

Pendek. Berat.

Tersengal-sengal.

Aku terus berada di sampingnya.

Bacaan Yasin masih mengalun.

Talqin masih kubisikkan.

Hingga akhirnya napas itu semakin pelan.

Kemudian berhenti.

Aku tidak mampu menangis.

Air mataku seperti tertahan.

Aku hanya terdiam, seolah sedang berada dalam mimpi dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi..

Pagi itu aku datang dengan niat menemaninya.

Tak pernah terlintas bahwa aku akan menyaksikan napas terakhirnya.

Rumah tangganya yang baru berusia satu tahun harus berakhir dengan kepergiannya.

Suaminya menangis histeris.

Tangis kehilangan seorang lelaki yang baru saja ditinggalkan perempuan yang dicintainya.

Aku hanya mampu berzikir sambil berusaha menerima bahwa semua ini adalah ketetapan Allah.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Ketika jasadnya telah terbujur kaku, aku masih berada di sana.

Aku ikut memandikannya.

Aku melihat tubuh yang dahulu berdiri anggun mengenakan gaun pengantin, kini terbaring tenang.

Dulu aku menemaninya memilih pakaian untuk menyambut kehidupan baru bertemu dengan suami tercintanya.

Kini aku ikut memandikannya sebelum ia kembali kepada Rabb-nya.

Perjalanan yang begitu singkat.

Belum selesai kesedihan kami, kabar lain datang.

Bayi yang telah diperjuangkannya dengan segenap tenaga dikabarkan dari pihak Rumab sakit, ternyata juga dipanggil Allah.

Anak yang baru saja melihat dunia itu menyusul ibunya.

Tangis keluarga kembali pecah.

Seorang ibu telah pergi.

Dan bayi yang baru dilahirkannya pun menyusul.

Hari itu menjadi hari yang begitu berat bagi keluarga mereka.

Sebenarnya aku bukanlah sahabatnya.

Aku bukan orang yang selalu hadir dalam setiap hari kehidupannya.

Bukan pula orang yang mengetahui seluruh kisahnya.

Namun mungkin aku adalah salah satu orang yang Allah izinkan membuatnya merasa nyaman.

Aku tidak tahu sejak kapan rasa itu tumbuh.

Yang aku tahu, dalam beberapa momen penting hidupnya, ia memilihku untuk berada di dekatnya.

Ia memilihku untuk mendengar kabar tentang lelaki yang akan menikahinya.

Ia memintaku menemani memilih gaun.

Ia mempercayaiku merias dirinya di hari pernikahan.

Ia meminta susu hangat buatanku ketika gugup.

Dan di penghujung hidupnya, Allah kembali menempatkanku di sampingnya.

Mungkin kedekatan kami tidak pernah memiliki nama khusus.

Tetapi ada rasa nyaman yang Allah titipkan di antara kami.

Dan aku bersyukur pernah menjadi salah satu orang yang membuatnya merasa nyaman.

Aku tidak pernah menganggap peranku dalam hidupnya begitu besar.

Namun setelah ia pergi, aku baru menyadari bahwa Allah telah memberiku kesempatan untuk hadir dalam beberapa halaman penting kisah hidupnya.

Aku hadir ketika ia menyambut pernikahan.

Aku hadir ketika ia memulai rumah tangga.

Dan aku hadir ketika ia berpamitan kepada dunia.

Sebuah perjalanan yang tidak pernah kurencanakan.

Sebuah amanah yang tidak pernah kuminta.

Namun akan menjadi kenangan yang kubawa sepanjang hidup.

Dari kepergiannya aku belajar bahwa manusia boleh menyusun begitu banyak rencana, tetapi Allah-lah yang menentukan berapa panjang perjalanan kita.

Kita dapat merencanakan pernikahan, rumah tangga, anak-anak, pekerjaan, dan masa depan.

Namun tak seorang pun tahu kapan lembar terakhir hidupnya akan ditutup.

Karena itu, hargailah orang-orang yang Allah hadirkan dalam hidup kita.

Jika ada yang perlu dimaafkan, maafkanlah.

Jika ada kebaikan yang ingin disampaikan, sampaikanlah.

Jika ada orang yang kita cintai, jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadiran mereka.

Ya Allah…

Ampunilah segala dosa dan kekhilafannya.

Terimalah amal ibadahnya.

Lapangkanlah kuburnya.

Rahmatilah bayinya.

Pertemukan ibu dan anak itu kembali dalam rahmat-Mu.

Dan jadikanlah akhir kehidupan kami sebagai akhir yang baik.

Jika suatu hari nanti kami sampai pada saat yang sama, hadirkanlah orang-orang yang mengingatkan kami kepada-Mu, membimbing lisan kami dengan kalimat tauhid, dan menenangkan hati kami dengan ayat-ayat-Mu.

Semoga Allah menjaga setiap langkah kita dalam ketaatan, dan mempertemukan kita kembali di Jannah-Nya, di tempat yang tidak ada lagi sakit, kehilangan, ataupun perpisahan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.[]

Comment