by

Epi Aryani: Antara Panggung Hiburan Dan Panggung Politik

Epi Aryan
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Fenomena artis masuk parlemen, bukan perkara baru dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Sejak beberapa tahun silam, panggung politik dihiasi dengan nama-nama beken semisal Rano Karno (mantan wakil Bupati Tangerang), Dedi Mizwar (mantan wakil Gubernur Jabar), Pasha Ungu (wakil Bupati Palu) dan masih banyak nama lain.

Sampai dengan saat ini, kepopuleran dalam panggung hiburan tetap menjadi modal andalan untuk mendulang suara dalam sebuan pemilihan calon legislatif (tribunnews.com, 18/7/2018). Tentu tidak salah, karena kepoluleran adalah modal yang dibangun dengan susah payah. 

Tapi bagaimana jika terjun ke dunia politik hanya bermodalkan kepopuleran semata?

Pengkerdilan Makna Politik

Dalam Islam, definisi politik adalah mengurusi urusan umat. Bukan ajang lomba asal menang, ajang eksistensi dan hiburan semata.

Mengurus urusan umat butuh orang-orang yang mumpuni. Yaitu memiliki pemahaman yang benar (tentang Islam), sadar akan pertanggung jawaban di akhirat dan siap untuk memberi yang terbaik untuk umat dengan asas dan sistem yang benar. Sistem yang berasal dari Allah semata, sebagaimana yang dikabarkan dalam TQS. Almaidah: 50

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang terbaik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Seperti yang telah dicontohkan oleh kholifah Umar Bin Abdul Aziz. Beliau mampu mensejahterakan warga negaranya dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun kepemimpinannya, dengan menerapkan sistem ekonomi berbasis Islam.

Jangankan berhutang, kas negara malah tumpah ruah karena tidak ada orang yang mau menerima zakat. Alias tidak ada warga miskin. Kebutuhan dasar warganya terpenuhi. Sehingga tumbuhlah kecintaan dari warganya terhadap elit politik. Totalitas kinerja untuk umat membuatnya menjadi pemimpin yang terkenal sepanjang masa.

Islam Dan Politik

Berbeda dengan sistem politik demokrasi yang asasnya sekuler materialistik. Yang memisahkan agama dalam ranah kehidupan. Sehingga miskin politikus yang menjunjung tinggi syariat Islam yang justru akan membebaskannya dari keterpurukan multidimensi seperti saat ini.

Dalam Islam, politik adalah sesuatu yang agung karena merupakan bagian dari hukum syara yang menjadi induk dari hukum syara lainnya. 

Orang yang terjun dalam politik praktis/ranah kekuasaan dipastikan adalah orang yang faham islam. Faham bagaimana tanggung jawab dan cara mengurusi umat serta siap menjalankan kepemimpinannya berdasarkan pada hukum syara.

Jadi, politik bukan ajang coba-coba, apalagi sekedar untuk eksistensi diri.

Wallahu A’lam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =

Rekomendasi Berita