by

Ferdinand Hutahaean: Indonesia Itu Tanah Pusaka, Tidak Untuk Diserahkan Ke Bangsa Asing

Ferdinand Hutahean, Pimpinan Rumah Amanah Rakyat (RAR).[Nicholas/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Barisan
cuplikan kalimat “Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung dihari tua, hingga akhir menutup mata.” Itulah sepotong bait lagu yang melukiskan
sebuah kecintaan pada Indonesia dan harapan bahwa Indonesia kelak
menjadi tempat berlindung di hari tua dan menjadi tempat akhir menutup
mata. 
Sebuah harapan berbasis kecintaan kepada Indonesia, siapapun ingin
menutup mata terakhir kali dipelukan orang yang dicintai, begitu
jugalah kenapa penulis lagu tersebut ingin menutup mata terakhir kali
dipelukan Indonesia.
Nampak harapan dalam lagu
itu kian terus menggema dan menjadi harapan bagi setiap orang Indonesia
yang cinta bangsanya, namun melihat situasi terkini, seakan harapan
dalam lagu itu menjadi sangat sulit dipenuhi. 
Banyak
orang tua terusir dari rumahnya atas nama penataan kota. Banyak orang
tua tidak tahu akan menutup mata dimana karena tempat berlindungnya
dibongkar paksa tanpa ada yang melindunginya. 
Kemana
lagi rakyat mengadu? Semua saluran mengadu tidak perduli atas duka dan
keprihatinan rakyatnya, lembaga kepresidenan bahkan terdiam seakan
mengamini atau bahkan turut serta dalam proses penggadaian negeri ini
kepada bangsa asing. 
Rakyat digusur tanpa perikemanusiaan, kemudian dibangun pemukiman mewah menampung kalangan mampu, Negara
tidak lagi hadir untuk semua golongan secara adil, Negara berubah
menjadi layaknya sebuah perusahaan yang wajib menghasilkan laba bagi
pemegang sahamnya. 
Pemerintah bekerja laksana
managemen perusahaan yang diangkat pemegang saham dan mutlak bekerja
hanya melaksanakan amanat pemegang saham demi keuntungan pemegang saham,
sementara rakyat dijadikan objek ekploitasi kepentingan. Ini adalah
bentuk penyimpangan pelaksanaan negara yang seharusnya rakyat adalah
tuan dan pemerintah adalah pelayan rakyat.
Indonesia
itu tanah pusaka. Indonesia itu tanah leluhur bukan tanah imigran.
Indonesia itu dibangun dan dibentuk dari darah dan nyawa para pejuang
bangsa. Didirikan atas kesadaran luhur para leluhur bangsa yang terdiri
dari suku suku asli Indonesia yang menyebar diseluruh nusantara dalam
bentuk pemerintahan kerajaan-kerajaan nusantara dengan berbagai macam
budayanya. 
Indonesia for Indonesian,
Indonesia untuk Orang Indonesia, Merdeka atau Mati, begitulah sepotong
kalimat-kalimat pendek masa revolusi kemerdekaan yang tertulis ditembok,
dinding dan tentu didalam jiwa para pejuang dan pendiri bangsa ini. 
Dengan
begitu, siapakah kita ini sekarang hingga berani melecehkan
kalimat-kalimat perjuangan diatas dengan menyerahkan Indonesia kepada
bangsa asing? Indonesia dimerdekakan untuk orang Indonesia. Apa yang
dilakukan oleh pemerintah sekarang adalah membawa bangsa ini menjadi
embel-embel bangsa asing dengan mengabaikan kedaulatan negara demi
kekuasaan. Apakah ini harus dibiarkan?
Indonesia
itu tanah pusaka. Titipan anak cucu Indonesia yang harus dijaga dan
dilindungi segenap tumpah darahnya. Membangun tanpa menggadaikan
kedaulatan adalah kata kunci keutuhan negara karena memimpin bukanlah
kepura-puraan jadi pemimpin. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang
melindungi segenap tumpah darah Indonesia, bukan yang menggadaikan
negara demi kekuasaan. 
Sekali lagi, INDONESIA
ITU TANAH PUSAKA bukan tanah rampasan. Pusaka yang tidak boleh
diserahkan kepada bangsa asing. Pusaka yang harus diteruskan turun
temurun kepada generasi penerus yang punya genetika Indonesia bukan
kepada yang pura-pura jadi orang Indonesia. 
Mari
jaga Tanah Pusaka, kita lawan segala bentuk upaya penghilangan
identitas kepusakaan Indonesia. Indonesia untuk orang Indonesia.
Mari
bersatu, satukan langkah satukan hati, rebut Indonesia dari penjajahan
baru. Bersatu menangkan Jakarta untuk rakyat… menangkan Indonesia
untuk Indonesia.[]

Comment