by

Khaliza Fahira: Gempa Lombok Dalam Pandangan Islam Dan Sekuler

Khaliza Fahira, Penulis

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sejak 29 Juli 2018 sudah terjadi sekitar 768 kali gempa dengan jumlah korban mencapai 548 jiwa di Lombok,NTB. Namun hingga kini, pemerintah belum menetapkan status Bencana Nasional dengan mempertimbangkan pariwisata dan kerugian yang ditimbulkan dengan “lari”nya pariwisata jika status Bencana Nasional ditetapkan.

Berbagai pihak telah mendesak pemerintah untuk menetapkan status bencana Nasional didasarkan pada efek gempa dengan berbagai kekuatan yang berdampak pada kerusakan material dan imaterial. Pemerintah pun merespon lambat terhadap korban gempa Lombok. Jokowi yang dijadwalkan terbang ke Lombok usai mendaftar sebagai capres membatalkan kunjungannya karena alasan keamanan. Disisi lain, presiden mengaku akan memberi bantuan setelah meninjau langsung ke lapangan (tribunnews).Dilansir dari Antaranews, korban gempa Lombok di dekat episentrum mengeluh bantuan terputus. Lombok bagian Utara daerah terdekat dengan pusat gempa pun tidak tersentuh bantuan.
Dalam pandangan sekuler, bencana tidak diposisikan sebagaimana pandangan Islam. Islam telah mengatur bagaimana manusia berupaya mencegah akibat dari kelalaiannya dalam menanggulangi bencana.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).”(Ar-Rum:41)
Harusnya, pemimpin mampu mengambil kebijakan penanggulangan berupa pencegahan maupun pemulihan pasca bencana. Dalam pandangan sekuler, gempa hanya dikaitkan dengan posisi Indonesia yang merupakan daerah rawan bencana dan dianggap bencana alam yang wajar. Sedang dalam pandangan Islam, gempa dijadikan waktu untuk melakukan muhasabah, koreksi terhadap kelalaian dan bertaubat sambil mengingat kemaksiatan yang telah dilakukan sehingga bencana diturunkan.
Amirul Mu’minin Umar Bin Khattab ketika masa kepemimpinannya,ia berkata kepada penduduk Madinah “Wahai manusia, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi zat yang jiwaku ada ditanganNya. Jika terjadi gempa susulan aku tidak mau tinggal bersama kalian selamanya”
Mengenai bantuan yang didistribusikan, sebagaimana fakta yang ada seharusnya pemerintah mendahulukan rakyat bukan mengutamakan urusan pribadi untuk melanggengkan kekuasaan, begitupun dengan urusan parawisata.
Maka harus ada perbaikan terhadap mekanisme penanggulangan bencana dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Jika kapitalis sekuler masih dijadikan pijakan maka bencana hanya menjadi fenomena alam biasa yang tidak berefek pada kesadaran manusia sebagai hamba Allah. Maka Islam sajalah yang harus menjadi satu-satunya pandangan dan aturan dalam setiap koridor kehidupan. [KF]

Penulis adalah siswi MAN Lhokseumawe Aceh dan Aktifis dakwah 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − two =

Rekomendasi Berita