by

Nchie Ummu Fatih: Menjadi Ibu Yang Dirindukan

Sri Yuniar dengan nama pena Nchie Ummu Fatih
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Selamat datang di indoma*et. Selamat berbelanja”. ~> sambil tersenyum manis.

“Ada yang bisa saya bantu?. Senyum manis lagi. ~> saat kita menanyakan letak suatu benda yg hendak kita beli.

“Terima kasih atas kunjungannya”. Teuteup ya senyum manis.

Pasti nyaman rasanya berbelanja di toko yang pelayannya ramah. Membuat kita betah berlama-lama sekaligus berkeinginan untuk kembali alias berlangganan.

Para karyawan tersebut memang terikat dengan SOP perusahaan. Saat melakukan pelanggaran atau berbuat sesuka hati, maka akan keluar surat peringatan atau bahkan pemecatan.

Nah, sebagai istri, ibu sekaligus pengatur rumah tangga. Sudahkah kita terikat dengan SOP (standar Operasional Perusahaan)?. Sehingga anggota keluarga merasa nyaman di rumah dan selalu rindu untuk kembali ke rumah?

Lho, memangnya rumah tangga itu perusahaan?. Perusahaan siapa? Ada yang bisa jawab?

Para ibu, jika kita kembalikan lagi pada hakikat kehidupan, kita ini adalah karyawan Allah. Kita diberi amanah sebagai istri, ibu, dan pengurus rumah tangga. Tempat kerja kita adalah di rumah. SOP kita adalah hukum syara. Gaji kita adalah pahala. Bonusnya adalah surga.
Setuju?

Nah, pertanyaannya. Sudahkah kita menjadi istri dan ibu yang sesuai dengan kehendak Allah? Sudahkah kita seperti karyawan mini market tadi yang selalu tersenyum dalam kondisi apapun? Bersabar saat anak atau suami menjengkelkan, mengucapkan terimakasih   bahkan meminta maaf pada anggota keluarga. Atau sebaliknya, justru omelan, teriakan, hardikan dan wajah cemberut yang menghiasi hari-hari kita. Alias tidak sesuai SOP. 

Masih untung yah ga dipecat sama Allah. Tapi tentunya rugi, tidak mendapatkan gaji berupa pahala dan bonus berupa surga. Sungguh sangat menyedihkan, saat menghadap-Nya justru amanah ini tidak menghantarkan kita ke surga. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. #NTMS.

Padahal harapan kita adalah kelak ketika menghadap-Nya kita membawa bekal amal sholih kita sebagai istri, ibu dan pengatur rumah tangga. 

Bisakah hal itu terwujud pada diri kita? Tetap tersenyum pada kondisi pahit, tetap menahan marah atau marah tanpa melanggar hukum syara, tetap bersabar saat ujian melanda. Baik ujian dari suami, anak, atau kesulitan ekonomi.

Ada yang merasa, bisa hal itu terwujud, tapi sulit. Sebaliknya, kita boleh merasa sulit bersikap manis bak “ibu peri”, tapi yakin bisa, asal ada kemauan.

Agar hal itu terwujud pada diri kita, kita harus memiliki kemauan untuk merubah diri agar lebih baik. Ambil “kesempatan” untuk menambah ilmu, bertawakal kepada Allah, sekaligus menghadirkan “ruh” (idrak sillah billah/hubungan dengan Allah) dalam menjalankan setiap aktifitas. Niat itu ibarat alamat surat. Ketika salah alamat, maka tidak akan sampai dan tidak akan mendapatkan balasan apa-apa.

Oleh karena itu sangat penting untuk mewujudkan motivasi ruhiyah pada kita sebagai seorang ibu. Supaya kita bisa menjalankan amanah ini dengan baik. 

Motivasi Ruhiyah/Aqidah kita sebagai ibu adalah :
1. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

“الأم مدرسة الأولى 

Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.” 
Tanamkan dalam diri bahwa Allah memberikan amanah kepada kita untuk menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak kita. Terbentuknya karakter anak bermula dari lingkungan terdekatnya dulu, yakni di lingkungan keluarga. Di dalam suatu keluarga, terdapat pendidik hebat dan mempunyai peran penting dia adalah ibu. Sosok wanita yang tidak pernah berhenti mengajarkan semua hal kepada anaknya. Jika ia salah dalam mendidik dan menanamkan akhlak pada anak, tentu menjadi awal kehancuran generasi berikutnya.

2. Anak adalah amal jariyah.

Abu Hurairah menerangkan bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya” (Hadis Riwayat Muslim).

3. Anak yang sholih akan mendoakan kita
Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr[1]

عَنْ أَنَسٍ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ : سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

Dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu) : Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal.

4. Allah mewajibkan kita menjaga diri dan keluarga dari api neraka
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6]

Penulis adalah seorang ibu rumah tangga dan aktif di Komunitas Ibu Peduli Generasi di Bogor, Jawa Barat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + seven =

Rekomendasi Berita