by

Pengamat : Hati Hati Dunia Tengah Dihantam Badai dan Turmoil

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Mencermati situasi ekonomi politik global terkini, Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) menjelaskan bahwa terkait seluruh analisis ekonomi dan politik pastinya dirasa sepakat kalau dunia sekarang tengah dilanda badai dan turmoil yang hebat.”Bukan sekedar ketidakseimbangan “unbalance”, tapi kerusakan sistem yang sifatnya mendasar,” jelas Salamuddin Daeng, Selasa (28/2).

Salamuddin Daeng menilai Amerika Serikat (AS) menanggung hutang besar, di lain pihak China hutang publiknya mencapai 31.7 triliun dollar, lalu Arab Saudi semenjak jatuhnya harga minyak akhirnya membuka wajah krisis negara tersebut.”Di tahun 2015 Arab Saudi menjadi negara paling agresif dalam memperdagangkan surat utang,” bebernya lagi mengutarakan.

Salamuddin juga mencermati bahwa yang paling mengkuatirkan ialah kondisi fiskal Arab Saudi di dunia ‘one of the worst fiscal deficit’.”Dimana tingkat defisit fiskal Arab Saudi pada tahun 2015 hampir mencapai 15% dari GDP mereka,” jelasnya.

Sementara, sambungnya lebih lanjut harga minyak rendah tampaknya akan bertahan lama dan menurutnya hal ini disebabkan dua (2) penyebab utama.

Adapun penyebabnya itu, jelas Pengamat Ekonomi Indonesia (AEPI) yang juga merupakan Ketua Komite Nasional Pengampunan Pajak (KNPP) Salamuddin Daeng mengatakan Pertama (1), China yang selama ini sebagai motor penggerak pertumbuhan global mengalami kontraksi besar.”Pertumbuhan ekonomi negara itu tersisa 5-6% saja dari pertumbuhan double digit sebelum tahun 2010. Ekonomi China tidak mungkin tumbuh lagi, namun sangat mungkin jatuh lebih dalam,” ungkapnya memprediksi.

Kedua, papar Salamuddin, Amerika Serikat (AS) sebagai konsumen minyak terbesar tidak lagi membutuhkan impor minyak, karena mampu memproduksi seluruh kebutuhan minyak mereka.”Bahkan saat OPEC menurunkan kuota produksi minyak justru AS meningkatkan produksinya,” tukasnya.

“USA telah menendang minyak sebagai bahan bakar semata dan tidak lagi menjadi dasar bagi nilai mata uang dollar, sama seperti era tahun 1970 an saat mereka menendang emas sebagai perhiasan semata,” Ujarnya.

Untuk itulah, jelas Salamuddin Daeng kalau dollar Amerika Serikat (AS) sudah semakin independen sebaga mata uang global, bahkan sudah tidak menggantungkan dirinya pada kebijakan Amerika Serikat serta melahirkan instrumen akumulasi sendiri lewat spekulasi.”Itulah mengapa terjadi buble finance, di mana uang begitu banyak namun semua negara menanggung utang,” bebernya.

“Utang global sudah mencapai 150% dari PDB semua negara. Jumlah uang sudah melampaui 10 kali dari PDB dunia. PDB dunia 60 triliun dollar. Namun, produk pasar keuangan mencapai 600 triliun dollar lebih,” tukasnya.

“Uang tidak lagi memiliki dasar. Emas bukan, minyak bukan, PDB bukan, negara juga bukan,” jelasnya.

“Maka itulah imbasnya mengakibatkan uang mencari mekanisme pengamanan sendiri, mencari ruang ekploitasi paling efektif,” paparnya.

Akan tetapi over produksi, over akumulasi dan buble finance capita, tidak lagi dapat diatasi dengan pembukaan pasar, Liberalisasi barang publik, dan delegasi keuangan.”Mengapa terjadi seperti ini ?,” Ungkapnya bertanya.

“Hal ini karena daya beli masyarakat dunia sudah jatuh. Orang sangat miskin telah mencapai angka nominal  2 miliar jiwa manusia. Negara negara tidak sanggup lagi menyerap utang, bahkan sebagian besar negara telah menanggung hutang melebihi PDB mereka dimana negara negara maju rata rata sudah di atas 100% PDB,” jelasnya lagi.

“Hanya ada satu peristiwa yang dapat menyelesaikan krisis yakni puncak krisis itu sendiri. Apa itu? Tidak lain adalah perang global. Perang menciptakan penghancuran, perampasan, pasar baru dan akhirnya keseimbangan baru. Lalu di mana perang ini akan dilangsungkan….wallahualam…,” pungkasnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + 18 =

Rekomendasi Berita