Sup Air Mata di Hari Qurban

Cerpen35 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Malam itu bau darah hewan qurban masih menempel di udara. Tanah becek bercampur jejak kaki panitia, bercak darah dan bau amis masih terasa di hidung.

Dari kejauhan sesekali terdengar suara takbir yang diputar dari pengeras suara masjid dan mushala, lirih dan berulang. Suara sendu itu seperti sedang menghibur orang-orang yang hidupnya terlalu letih dengan lingkaran kemiskinan.

Hewan kerbau dan kambing dipotong sejak pagi. Panitia tampak sibuk dengan tugas masing masing. Ada yang bertugas sebagai penyembelih hingga membersihkan jeroan.

Usai pemotongan, panitia pun sibuk memilah daging, menimbang tulang, mengikat kantong plastik, lalu membagikan daging tersebut kepada warga.

Tampak pula kaum ibu yang juga sibuk dengan perlengkapan dapur mulai dari panci hingga kompor dan bumbu sup. Mereka bersiap memasak sup daging qurban sebagai hidangan untuk panitia.

Usai pemotongan, panitia pun menyantap dengan lahap sup yang dihidangkan oleh emak emak. Hmm.. rasanya maknyus…

Mereka duduk di tempat yang mereka suka sambil menikmati sup daging panas dalam mangkuk plastik putih. Tawa pecah di sela obrolan.

Ada yang menyeruput kuah dengan nikmat, ada yang menambah sambal, ada pula yang membungkus tulang untuk dibawa pulang. Asap sup mengepul ke udara bersamaan dengan sisa bau amis darah.

Aroma sup itu terasa di ujung hidung. Wow..begitu gurih. Tapi tidak semua orang  bisa menikmati semangkuk sup dengan daging sembelihan qurban.

Menjelang tengah malam, usai pemotongan hari itu, ketika asik duduk mengobrol, tetiba seorang laki-laki datang dan duduk di sebuah bangku di depan rumah.

Langkahnya ragu-ragu seperti orang yang takut mengganggu obrolan yang sedang berlangsung.

Kaos kusam. Celana pendek tampak lusuh dan pudar seperti sudah terlalu sering dicuci tanpa sabun. Rambutnya berantakan. Wajahnya dipenuhi garis lelah yang sulit dijelaskan dengan kata kata.

Usianya mungkin sekitar empat puluh lima tahun atau mungkin lebih muda. Kemiskinan kadang membuat seseorang tampak lebih tua dari hidupnya sendiri.

Ia pun duduk setelah dipersilakan. Duduk dengan tubuh setengah membungkuk, seperti orang yang terlalu sering ditolak. Dia mengaku seorang pemulung.

“Sekarang susah cari kardus, Pak. Saya hanya ngumpulin botol aqua. Lumayan sekilo dapat Rp. 4000.” katanya sambil tersenyum kecil.

Ia berasal dari sebuah kampung di Banten. Di sana ada seorang istri dan anak kecil yang katanya sudah mulai kenal jajan.

Kalimat itu terdengar sederhana tapi entah kenapa terasa menyayat.

“Anak saya kalau ditelepon suka bilang, ‘Bapak kapan pulang? Bawain ciki ya…’”
Lalu lelaki itu tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih mirip suara patah hati.

Ia bercerita bahwa istrinya sempat hamil lagi. Namun janin itu tidak berhasil dipertahankan. Keguguran. Rumah sakit. BPJS. Obat. Ongkos jalan. Semua datang bersamaan seperti hujan yang lupa berhenti.

“Motor saya jual, Pak…” katanya lirih.
“HP juga.” Ia mengusap jidatnya pelan. Menyesali diri yang kini sulit menghubungi anakniatri di kampung halaman.

“Saudara sebenarnya ada. Orang berada juga. Tapi ya… mungkin lagi susah bantu.”

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan hati-hati. Seolah ia masih ingin menjaga kehormatan keluarganya meski keluarganya sendiri tak menjaganya.

Kini ia berjalan kaki ke mana-mana. Dari satu tempat ke tempat lain. Memungut kardus, botol plastik, besi bekas, apa saja yang masih bisa ditukar dengan nasi.

“Tapi capek jalan bukan yang paling berat, Pak…” katanya.

Ia diam sebentar. “Saya cuma sedih ga bisa hubungi anak istri.”

Malam terasa makin dingin. Aroma kuah daging yang disantap panitia siang tadi masih terbayang indah. Sesekali terdengar suara sendok beradu dengan mangkuk dan tawa para panitia yang masih menikmati sup daging hangat bersama-sama.

Namun aroma gurih itu tidak melintas sedikitpun di lidah lelaki miskin tersebut.
Aroma yang bagi sebagian orang terasa nikmat, tapi bagi sebagian lain justru terasa seperti luka.

Lalu laki-laki itu berkata sesuatu yang membuat dada mendadak sesak. Perutnya yang lapar sejak pagi hingga malam itu pun belum mendapatkan sekantong daging qurban. Padahal lokasi rumah laki laki itu tidak jauh dari tempat pemotongan.

“Kenapa ga minta ke panitia, Pak?” tanyaku pelan.

Ia tersenyum pahit, “Malu, Pak… nanti ditanya kupon.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Pendek. Pelan. Tapi rasanya seperti pisau yang ditarik perlahan di dada. Terasa seperti sembilu.

“Saya ga ada kupon.”
Lalu ia tertawa kecil sambil mengusap jidatnya lagi. Tawa yang dipaksakan agar air mata tidak jatuh.

Aku terdiam. Di luar sana orang-orang memperdebatkan jumlah hewan qurban, ukuran sapi, kualitas daging, bahkan sibuk memotret proses penyembelihan untuk media sosial. Tapi di sudut malam yang nyaris pagi itu, ada seorang lelaki miskin yang bahkan terlalu malu untuk meminta haknya sendiri.

Aku bergumam, apakah panitia lupa mendata? Atau mungkin lelaki seperti ini memang tak layak dimasukkan ke daftar penerima? Padahal rumahnya hanya selemparan batu dari darah hewan qurban yang mengalir sejak pagi.

“Apa bapak tahu ada pemotongan qurban di sekitar sini?” tanyaku lagi.

Ia mengangguk.
“Tahu, Pak.”
“Terus kenapa ga datang?”

Laki laki itu menatap jalanan yang mulai sepi. “Saya takut ditanya kupon.” ujarnya dengan tawa yang dipaksakan.

Tak ada kemarahan dalam suaranya. Tak ada protes. Tak ada kebencian. Hanya rasa malu yang dipelihara terlalu lama oleh kemiskinan.

Malam semakin larut. Mata mulai berat.
Tapi pikiran justru semakin terjaga.

Aku memandangi lelaki itu diam-diam. Entah kenapa tiba-tiba terlintas satu pertanyaan yang menyesakkan:
Berapa banyak orang miskin lain di luar sana yang sebenarnya lapar, tapi memilih diam karena tidak punya kupon?

Berapa banyak dari kita yang sibuk membagi daging hanya sebatas lingkaran yang dikenal namun lupa membagikan rasa peduli kepada mereka di luar lingkaran?

Tak jauh dari rumah, suara tawa panitia kembali terdengar. Mungkin mereka masih menikmati hangatnya sup daging qurban malam itu.

Sementara di teras rumahku, seorang lelaki kurus hanya menelan ludahnya sendiri sambil menahan lapar dan rasa malu.

Obrolan dengan laki laki yang “Unknown” malam itu membuat aku tersadar, di Hari Qurban, ternyata tidak semua sup terbuat dari daging. Ada juga sup yang diracik dari rasa lapar, air mata, dan hati manusia yang terlupakan. Itulah Sup Air Mata.[]

Comment

Rekomendasi Berita