![]() |
| Yuyun Suminah, A. Md, Penulis |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ibarat sebuah mobil adakalanya direm dan adakalanya digas, seorang pengemudi harus bisa mengkontrol laju kendaraannya. Tidak bisa semaunya perlu yang namanya mematuhi rambu lalu lintas.
Begitu juga dengan hidup kita harus tahu kapan waktu direm dan kapan waktu untuk digas untuk melaju kencang. Itu semua perlu yang namanya aturan.
Walaupun tidak sedikit sebagian orang yang tanpa rem dalam melakukan perbuatan. Berawal dari gaul bebas tanpa batas yang menabrak aturan-aturan Allah, seperti muda-mudi yang menjalani aktivitas pacaran tidak sedikit yang berakhir zina dan hamil di luar nikah. Muda-mudi yang belum siap menanggung beban malu, ketidak siapan baik fisik maupun mental apalagi ilmu, apa daya bagi mereka aborsi menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Aborsi diklaim sebagai jalan solusi dari maraknya kehamilaan diluar nikah baik hamil didasari oleh rasa suka sama suka maupun atas dasar perkosaan. Miris.
Itu semua tidak akan terjadi kalau dalam melajukan kehidupan tahu kapan direm dan kapan untuk digas.
Rem Hawa Nafsu
Didasari oleh rasa keinginan seseorang bisa saja melakukan apapun untuk mencapai keinginannya tersebut. Ketika ingin mempunyai seorang pasangan tidak sesuai aturan-Nya hanya mengandalkan sebuah status pacaran justru itulah awal yang harus direm keinginannya. Rasa cinta adalah fitrah, Allah tidak mengekang hanya saja Allah membuat aturan penyaluran fitrah tersebut.
Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” [Muttafaq Alaihi].
Sabda Rasulullah tersebut mengingatkan kita perlu mengrem rasa cinta itu lewat puasa, ketika seseorang belum mampu maka berpuasalah. Itulah solusi yang Allah berikan bukan lewat dengan status pacaran yang justru membuka lebar perzinahan.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”(TQS. Al-Israa [17]: 32)
Gas Amal Perbuatanmu
Melakukan kebaikan atau amal setiap manusia wajib untuk menggasnya untuk melaju kencang, ibarat kita sedang berkompetisi untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal kebaikan. Seperti firman Allah yang artinya:
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (TQS. Al Baqarah : 148)
Berlomba-lomba dalam hal kebaikan dan berlomba-lomba dalam meninggalkan kemaksiatan. Untuk melakukan amal kebaikan ada yang bisa dilakukan sendiri, bantuan masyarakat dan butuh peran negara.
Untuk melajukan hidup mengejar kebaikan yang paling penting adanya keterlibatan negara, karena lewat negaralah legalisasi hukum bisa diterapkan. Tentu hukum yang berasal dari syariat islam karena dalam sistem islam bisa menuntaskan berbagai macam masalah termasuk mengatasi dampak pergaulan bebas yang marak saat ini.
Seperti larangan mendekati zina, aturan di lingkungan, peran pendidikan termasuk juga peran media seperti media elektronik dan cetak jangan sampai media-media yang ada menimbulkan bangkitnya sahwat yang memicu kepada kemaksiatan. Walahua’lam.[]










Comment