Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

Opini21 Views

Penulis: Herni Susita | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Generasi Z—mereka yang lahir di rentang tahun 1997 hingga 2012—tumbuh di tengah perubahan yang sangat cepat. Teknologi berkembang pesat, informasi mengalir tanpa batas, dan tuntutan hidup semakin kompleks.

Di satu sisi, mereka memiliki akses pengetahuan yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan yang tak terlihat: perbandingan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial, ketidakpastian masa depan, tekanan akademis dan pekerjaan, serta rasa kesepian meskipun terhubung secara digital.

Akibatnya, angka kasus depresi, kecemasan, dan gangguan kesehatan mental di kalangan Gen Z terus meningkat. Mengapa Generasi Z Rentan Terhadap Depresi?

Ada beberapa faktor utama yang membuat Gen Z lebih rentan mengalami gangguan emosi dan depresi, antara lain:

Pengaruh Media Sosial

Banyak anak muda yang mengukur nilai diri berdasarkan jumlah pengikut, suka, atau pencapaian yang ditampilkan di dunia maya. Mereka sering melihat kehidupan orang lain yang terlihat sempurna, sehingga memicu rasa tidak percaya diri, iri hati, dan perasaan gagal saat membandingkan kondisi diri sendiri dengan orang lain.

Fenomena fear of missing out (FOMO) juga membuat mereka selalu merasa tertinggal dan tidak puas dengan apa yang dimiliki

Ketidakpastian Masa Depan

Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu dan persaingan yang semakin ketat, banyak Gen Z merasa khawatir tentang masa pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan mereka. Rasa takut tidak mampu mencapai harapan diri maupun harapan orang sekitar menimbulkan beban pikiran yang berat.

Kurangnya Koneksi Emosional

Meskipun terhubung melalui perangkat, banyak anak muda yang kehilangan hubungan akrab dengan keluarga dan teman-teman di dunia nyata. Kesepian yang mendalam seringkali menjadi akar dari perasaan sedih yang berkelanjutan dan depresi.

Kurangnya Tujuan Hidup

Banyak yang hidup hanya untuk memenuhi keinginan duniawi tanpa memahami makna dan tujuan sebenarnya dari kehidupan. Ketika segala sesuatu terasa tidak berarti, mudah bagi seseorang untuk terjebak dalam perasaan putus asa.

Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini jadi pemicu utama Kecemasan Gen Z. Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik kapitalistik.

Serta adanya sikap Abai negara terhadap pengriayahan generasi. Alih-alih dirangkul, Generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya.Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal.

Solusi Islam Mengatasi dan Mencegah Depresi

Islam menawarkan Solusi yang menyeluruh praktis dan mendalam untuk membantu gen Z beralih dari kondisi tertekan menuju ketahanan jiwa yang kuat.solusi ini bukan hanya mencakup aspek spiritual ,emosional saja tetapi Islam sebagai solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini.

Penerapan Islam mendatangkan Rahmatan lil Alamin. Membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia. Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat. Berkepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan.

Banyak sekali contoh bagaimana keberhasilan para pemuda-pemuda islam berbagai bidang keilmuan seperti al-Khawarizmi,di usianya yang sangat muda menjadi astronom dan matematikawan utama di Baitul Hikma (pusat penerjemah dan penelitian di Baghdad).

Ada Ibnu Sina (Avicenna) sejak usia 18 tahunmenjadi dokter Istana yang sangat dihormati serta dijuluki bapak kedokteran Modern.

Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Serta Menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan.[]

Comment